PENGARUH PENANAMAN NILAI KARAKTER TERHADAP PERILAKU SISWA DI SEKOLAH DASAR

PENGARUH PENANAMAN NILAI KARAKTER TERHADAP PERILAKU SISWA DI SEKOLAH DASAR

Nur Ma’rifah 1), Annissa Nur Sofia 2), Rofidah 3), Iga Dwy Atmini 4), Maghfiroh Desi Nur Fitriani 5), Asiah Ario Rinka 6), Naufan Muhammad Basil Attamimi 7).

Fakultas Ilmu Pendidikan, Universitas Negeri Yogyakarta

e-mail : nurmarifah.2017@student.uny.ac.id annissa9594fip.2017@student.uny.ac.id rofidah.2017@student.uny.ac.id iga9217fip.2017@student.uny.ac.id maghfirohdesi.2017@student.uny.ac.id asiahario.2017@student.uny.ac.id naufanmuhammad.2017@student.uny.ac.id

 

Abstrak

            Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan pengaruh penanaman nilai karakter terhadap perilaku siswa dalam pembelajaran di sekolah dasar. Penelitian ini menggunakan metode deskriptif kualitatif dengan desain studi kasus. Pengumpulan data dilakukan dengan wawancara, observasi, dan studi dokumentasi. Subjek dari penelitian ini adalah guru dan siswa SD N Jlaban. Hasil penelitian ini menunjukkan adanya perbedaan perilaku di tiap-tiap siswa karena adanya penanaman nilai atau pendidikan karakter baik dalam maupun di luar pembelajaran. Pembiasaan melalui penanaman nilai karakter di SD N Jlaban dilakukan dalam beraktivitas dan berperilaku di segala aktivitas baik di dalam maupun di luar kelas. Penelitian dilakukan berdasarkan permasalahan karakter anak bangsa usia sekolah dasar seperti bullying, menyontek, dan membolos.

Kata Kunci : penanaman nilai karakter, perilaku, sekolah dasar

 

Abstract

This research aims to describe the effect of planting character values ​​on student behavior in learning in elementary school. This study used a qualitative descriptive method with a case study design. Data collection is done by interview, observation, and documentation study. The subjects of this study were elementary school teachers and students at SD N Jlaban. The results of this study indicate that there are differences in behavior in each student because of the value planting or character education both in and outside of learning. Habit through planting character values ​​at SD N Jlaban is carried out in activities and behavior in all activities both inside and outside the classroom. The research was conducted based on the character problems of elementary school age children such as bullying, cheating, and truant.

Keywords : planting character values, behavior, elementary school

 

PENDAHULUAN

Pembelajaran yang aktif dianggap lebih bermakna sehingga membuat siswa lebih paham akan pembelajarannya. Hal ini sesuai dengan teori John Dewey, yaitu seseorang akan mudah untuk mendapatkan pengetahuannya jika ia melakukannya (Ali Mustadi, 2018: 47). Pembelajaran sekaligus melakukan (Learning by Doing) harus dibersamai dengan penanaman nilai karakter dalam prosesnya agar pembiasaan yang dilakukan dapat tertanam dengan baik pada diri siswa.

Karakter bangsa Indonesia perlu menjadi perhatian serius bagi dunia pendidikan, khususnya pendidikan dasar. Maraknya permasalahan karakter atau budi pekerti generasi bangsa terus mengalami dinamisasi, disatu sisi ada yang mengalami kemajuan dan disisi lain ada yang stagman bahkan ada yang mengalami penurunan. Keadaan ini mendakan bahwa pembelajran yang didapatkan siswa disekolah ternyata tidak meresap kedalm jiwa mereka dan tidak berampak pada perilaku siswa.

Karakter merupakan watak ataupun budi pekerti yang dimiliki seseorang. Karakter juga bisa dipahami sebagai tabiat atau watak (Azzet, 2013 :16). Karakter dapat dijadikan ciri khas yag unik bagi seseorang. Dengan demikian, karakter dapar membedakan antara satu individu dengan individu yang lainnya. Dengan kata lain karakter dapat berupa sesuatu yang baik maupun sebaliknya. Tugas pendidikan didalam sekolah adalah mengembangkan karakter baik yang dimiliki oleh peserta didik serta menekan karakter yang kurang tepat untuk dikembangkan.

Pendidikan karakter di nilai sangat penting dimulai pada usia dini karena pendidikan karakter adalah proses pendidikan yang ditujukan untuk mengembangkan nilai, sikap dan perilaku yang memancarkan akhlak mulia atau budi pekerti luhur. Sejatinya pendidikan karakter ini memang sangat penting dimulai sejak usia dini, karena agar karakter tesebut dapat tertanam sejak kecil sehingga kelak ketika sudah dewasa nanti memiliki karakter yang baik. Selain itu pada anak usia dini lebih mudah ditanamkan suatu hal – hal yang baru karena anak masih tergolong polos.

Pendidikan karakter diajarkan di sekolah dengan maksud antara lain untuk membangun generasi penerus bangsa di masa mendatang yang cerdas, berakhlak mulia dan berbudi pekerti luhur sesuai dengan tujuan Pendidikan Nasional yang tercantum dalam Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2003 Tentang Sistem Pendidikan Nasional, bab II, pasal 3 dengan tegas merumuskan bahwa: Tujuan pendidikan nasional adalah untuk berkembangnya potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertaqwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggungjawab.

Karakter manusia memiliki 6 (enam) pilar yang meliputi :

  1. Respect

Karakteristik ini adalah karakter yang menunjukkan rasa hormat dan selalu menghargai orang lain.

  1. Tolerance (toleransi)

Sikap menghormati orang lain yang berbeda dengan kita atau yang kadang seakan menentang atau berlawanan dengan kita dan memusuhi kita.

  1. Acceptance (penerimaan)

Menerima orang lain,  misalnya dengan tetap bersikap baik meski tidak sepakat dengan dirinya.

  1. Autunomy (otonomi, kemandirian, ketergantungan).
  2. Privacy (privasi, urusan pribadi)

Memberi kesempatan kepada orang lain untuk melakukan kesibukan dalam kaitannya frngan urusan mereka sendiri.

  1. Nonviolence (non-kekerasan).
  2. Courteous

Rasa hormat yang ditunjukkan dengan sikap yang sengaja.

  1. Polite (sikap santun)
  2. Concerned (sikap memberi perhatian)
  3. Responsibility (Tanggung Jawab)

Tanggung jawab yang menghendaki kita mengenali apa yang kita lakukan karena kita akan bertanggung jawab pada akibat pilihan kita. Konsekuensi dari apa yang kita pilih harus kita hadapi dan kita atasi.

  1. Civic Duty Citizenship (Kesadaran dan Sikap Berwarga Negara)

Nilai sipil adalah nilai yang harus diajarkan pada individu sebagai warga negara yang memiliki hak yang sama dengan warga lainnya. Tugas-tugas sipil adalah kewajiban untuk mewujudkan terciptanya kesejahteraan umum. Tiap warga negara harus memainkan aturab, mematuhi undang-undang, membayar pajak, berpartisipasi dalam proses demokrasi, mau menjadi saksi atas kejahatan yang ada.

Selain menjamin adanya hak, kita juga berkewajiban misalnya menghormati orang lain secara suku dan agama dan ideologi dan budaya yang berbeda, kewajiban untuk ikut mempertahankan negara dari serangan musuh dll. Maka karakter yang diperlukan untuk mendukung terlaksananya hal tersebut adalah karakter yang menhasilkan tindakan toleransi dan saling menghormati antar sesama manusia.

  1. Fairness (Keadilan)

Sikap adil merupakan kewajiban moral untuk menempatkan segala sesuatu sesuai dengan posisinya. Kita diharapkan memperlkukan semua orang secara adil. Contohnya, kita harus mendengarkan orang lain dan memahami apa yang mereka rasakan dan pikirkan. Penilaian dan anggapan yang terburu-buru merupaka suatu yang tidak adil. Adil haru dilakukan baik dalam pikiran maupun perbuatan.

  1. Caring (Peduli)

Kepedulian adalah sifat yang membuat pelakunya merasakan apa yang dirasakan orang lain, mengetahui bagaimana rasanya jadi orang lain. Istilah yang mirip dengan sifat peduli adalah solidaritas. Ia mengacu pada ikatan sosial. Kepedulian dan solidaritas lahir dari pengetahuan dan pemahaman kita tentang diri kita dan orang lain tersebut.

  1. Trustworthiness (Kepercayaan)

Kepercayaan adalah karakter yang menyangkut beberapa elemen, antara lain sebagai berikut :

  1. Integritas, merupak kepribadian sifat yang menyatukan antara apa yang diucapkan dan dilakukan.
  2. Kejujuran, apa yang dikatakan adalah benar sesuai dengan kenyataannya.
  3. Menepati janji

Mengacu pada Perpres no 87 tahun 2017 dan diperkuat oleh Permendikbud no 20 tahun 2017 tentang Penguatan Pendidikan Karakter, terdapat 5 karakter utama yang harus dikembangjan sejak usia sekolah dasar. Kelima karakter tersebut yaitu :

  1. Religius
  2. Nasionalisme
  3. Mandiri
  4. Gotong royong
  5. Integritas

Pendidikan yang tidak dilandasi dengan penguatan penanaman karakter pada anak didiknya menyebabkan munculnya berbagai masalah-masalah diantaranya :

  1. Penganiayaan antar siswa, kekerasan dan bullying

Kasus-kasus penganiayaan antar siswa kekerasan dan bullying disekolah-sekolah bahkan jenjang SD.

  1. Menyontek

Menyontek menjadi salah satu masalag karakter yang termasuk bagi sebagian siswa SD.

  1. Membolos sekolah

Banyak pelajar yang membolos sekolah untuk bermain game diwarnet atau sekadar berkumpul dengan temannya.

Pendidikan sebaiknya tidak hanya mencerdaskan anak dari segi kognitif saja akan tetapi hendaknya juga mencerdaskan anak dari segi akhlak dan budi pekerti. Pendidikan karakter terutama di jenjang SD sangatlah penting. Pendidikan karakter di SD lebih menekankan pada pembiasaan. Ketika seseorang sudah dewasa dan memiliki kebiasaan yang kurang baik akan sukar ditata karena perkembangan mereka tidak berada pada tahap dimana kebiasaan bisa diatur ulang kembali. Pembiasaan melalui pendidikan karakter di SD lebih bisa dilakukan dalam beraktivitas dan berperilaku di segala aktivitas baik didalam maupun diluar kelas.

Dalam penanaman karkter tesebut selain peran orang tua, peran guru sangatlah penting bagi pengembangan pendidikan karakter di sekolah yang berkedudukan sebagai katalisator atau teladan, inspirator, motivator, dinamisator, dan evaluator. Dalam berperan sebagai katalisator, maka keteladanan seorang guru merupakan faktor mutlak dalam pengembanagn pendidikan karakter peserta didik yang efektif, karena kedudukannya sebagai figur atau idola yang ditiru oleh peserta didik. Peran sebagai inspirator berarti seorang guru harus mampu membangkitkan semangat peserta didik untuk maju mengembangkan potensinya. Peran sebagai motivator, mengandung makna bahwa setiap guru harus mampu membangkitkan semangat, etos kerja, dan potensi yang luar biasa pada diri peserta didik. Peran sebagai dinamisator, bermakna setiap guru memiliki kemampuan untuk mendorong peserta didik ke arah pencapaian tujuan dengan penuh kearifan, kesabaran, cekatan, cerdas dan menjujung tinggi spiritualitas.sedangkan peran guru sebagai evaluator, berarti setiap guru dituntut untuk mampu dan selalu mengevaluasi sikap atau perilaku diri, dan metode pembelaaran yang dipakai dalam pengembangan pendidikan karakter peserta didik, sehingga dapat diketahui tingkat efektivitas, efesiensi, dan produktivitas programnya.

Dengan demukian pendidikan karakter sangat penting diterapkan demi mengembalikan karakter bangsa Indonesia yang telah mualai luntur. Dengan dilaksanakannya pendidikan karakter di sekolah dasar, diharapkan dapat menjadi solusi atas masalah – masalah sosial yang terjadi di masyarakat.

Dalam pelaksanaan pendidkan karakter di Sekolah Dasar, terdapat tahapan perencanaan dan pelaksanaan. Berikut adalah tahapan pendidikan karakter di Sekolah Dasar :

  1. Tahap Perencanaan
  2. a) Sosialisasi, dilakukan guna memberikan pemahaman mengenai pendidikan karakter, menyamakan persepsi tentang konsep pendidikan karakter, serta bagaimana mengintegrasikan pendidikan karakter dalam pembelajaran kepada seluruh elemen pendukung sekolah.
  3. b) Pengembangan dokumen kurikulum yang mengandung nilai-nilai karakter. Pengembangan dokumen kurikulum ini meliputi visi misi dan tujuan sekolah, silabus, RPP, serta perangkat kurikulum yang lainnya.
  4. Tahap Pelaksanaan

Strategi dalam melaksanakan pendidikan karakter beragam, diantaranya :

  1. Integrasi dalam setiap mata pelajaran

Nilai-nilai karakter dapat dileburkan dalam setiap pembelajaran seklah sehingga siswa dapat mengalaminya setiap hari. Perencanaan, pelaksanaan, dan evaluasi pembelajaran dapat diintegrasikan dalam pendidikan karakter.

  1. Integrasi dalam muatan lokal

Potensi keunikan daerah dalam muatan lokal mengandung nilai-nilai luhur budi pekerti bangsa. Segala nilai ini hendaknya ditekankan sebagai salah satu usaha mengembangkan karakter anak.

  1. Melalui kegiatan pengembangan diri
  2. Pembudayaan dan pembiasaan
  3. Pengondisian
  4. Kegiatan rutin
  5. Kegiatan spontanitas
  6. Keteladanan
  7. Kegiatn terprogram
  8. Ekstrakulikuler

Pramuka, UKS, PMR, Seni dan Olahraga

  1. Bimbingan konseling

Dengan memberikan bimbingan konseling secara rutin bagi siswa di sekolah.  

             

METODE PENELITIAN

Jenis Penelitian

              Teknik pengumpulan data yang digunakan adalah teknik teknik observasi, wawancara, dan studi dokumentasi tentang partisipasi aktif dalam kegiatan, guru, kepala sekolah. Oleh sebab itu, kehadiran kami di dalam menjadi keharusan, karena kami sebagai instrument utama. Langkah analisis data yaitu reduksi data, penyajian data dan penarikan kesimpulan, dan verifikasi. Pengujian kredibilitas data dilakukan dengan cara perpanjangan pengamatan, meningkatkan ketekunan, triangulasi), pemeriksaan teman sejawat, analisa kasus negatif, dan member check atau pengecekan anggota (Moleong, 2007). Subyek adalah siswa siswa di SD N Jlaban.

Waktu dan Tempat Penelitian

            Penelitian ini dilakukan di SD N Jlaban yang beralamat di Dlaban, Sentolo, Kulon Progo. Di mana penelitian dilakukan sebanyak tiga kali pada bulan Oktober 2018.

Subjek dan Objek Penelitian

            Subjek penelitian yaitu siswa dan guru di SD N Jlaban. Objek penelitian adalah pembiasaan melalui nilai karakter yang diterapkan di SD N Jlaban.     

HASIL DAN PEMBAHASAN

              Terdapat papan tentang 18 Pendidikan Budaya dan Karakter yang yang menjadi acuan di SD N Jlaban. 18 karakter tersebut meliputi :

  1. Religius
  2. Jujur
  3. Toleran
  4. Disiplin
  5. Kerja keras
  6. Kreatif
  7. Mandiri
  8. Demokratis
  9. Rasa ingin tahu
  10. Cinta tanah air
  11. Semangat kebangsaan
  12. Menghargai prestasi
  13. Bersahabat / komunikatif
  14. Cinta damai
  15. Gemar mebaca
  16. Peduli lingkungan
  17. Peduli sosial
  18. Tanggung jawab

Guru di SD N Jlaban berusaha agar mampu mengintegrasikan 18 karakter tersebut dalam setiap pembelajaran di sekolah. Contoh : Budaya religius tampak saat membaca doa akan belajar di kelas. Di kelas tidak boleh menyontek. Dalam mengerjakan tugas dikelas, sisiwa dituntut agar displin dan tepat waktu. Di kelas 2, guru menunggu peserta didiknya selesai mengerjakan tugas, kalau belum selesai maka belum boleh istirahat walau bel istirahat sudah berbunyi. Hal ini akan mengajarka siswa sikap disiplin.

SD N Jlaban juga melaksanakan Pendidikan Karakter melalui kegiatan :

  1. Pembiasaan atau kegiatan rutin

Kegiatan pembiasaan yang dilaksanakan di SD N Jlaban cukup banyak meliputi beberapa bidang atau aspek, diantaranya :

  1. Aspek agama

Budaya religius tampak saat membaca doa akan belajar di kelas. SD N Jlaban juga mempunyai program rutin yaitu sholat dzuhur berjamaah di awal waktu dan dzikir bersama serta ceramah singkat atau kultum dari Kepala Sekolah setelah sholat yang bertujuan untuk membentuk karakter siswa yang religius. Untuk semua siswa laki-laki di SD N Jlaban dari kelas 1-6 dan siswa perempuan kelas atas yaitu 4,5 dan 6 harus sholat dzuhur berjamaah di masjid dekat sekolah. Sedangkan siswa perempuan kelas rendah yaitu 1,2 dan 3 sholat dzuhur di mushola sekolah. Setiap anak harus dzikir sesuai dengan kertas untuk dzikir dari sekolah. Jika belum hafal siswa diperkenankan membawanya. Dengan pengembangan budaya yang religius, siswa diharapkan dapat selalu mengingat Tuhan saat akan menjalani setiap kegiatannya.

  1. Aspek gemar membaca

Dikelas 2 terdapat papan literasi yang ditempel di tembok belakang kelas yang berisi karya peserta didik berupa puisi dll yang setiap saat dapat dibaca oleh peserta didik itu sendiri.  Dari hal tersebut siswa telah dibiasakan untuk membaca mulai dari kelas rendah sehingga terbentuklsh generasi yang gemar membaca karena dengan membaca, siswa dapat memperluas wawasannya. Sehingga diharapkan siswa dapat memiliki pemikiran yang tebuka dalam mengatasi berbagai permasalahan hidupnya.

  1. Aspek kerapian

Budaya rapi yang dikembangkan oleh guru SD N Jlaban antara lain saat hari senin para siswa harus memakai atribut yang lengkap dan kaos kaki yang rapi. Jika tidak siswa akan mendapat sanksi setelah upacara. Sebelum pulang sekolah, siswa kelas 2 diharuskan merapikan kursi dengan menaikknya keatas meja agar terlihat rapi. Dari hal tersebut, dapat diketahui bahwa budaya rapi telah merasuk ke dalam diri peserta didik.

  1. Aspek kebersihan

Siswa dijadwalkan untuk piket halaman dan taman sekolah secara bergiliran. Dengan hal tersebut diharapkan siswa akan terbiasa menempati tempat yang bersih dan pemadangan sekitar sekolah pun nampak indah. Melalui kegiatan membersihkan halaman dan taman siswa dipupuk sejak dini agar memiliki karakter peduli terhadap lingkungan.

  1. Ekstrakulikuler

Kegiatan ekstrakulikuler yang terdapat di SD N Jlaban diantaranya adalah kegiatan Pramuka. Melalui kegitan pramuka, peserta didik ditanamkan karakter seperti displin dan cinta tanah air.

SIMPULAN DAN SARAN

Simpulan

Berdasarkan hasil penelitian dan pembahasan yang telah diuraikan, maka dapat diambil kesimpulan bahwa penenaman nilai karakter di SD N Jlaban telah terlaksana dengan baik.

Hal ini terbtukti dalam pembelajaran di SD N Jlaban yang telah mengintegrasikan 18 nilai karakter, terbukti dari usaha guru dalam pembelajaran. Penanaman nilai karakter juga dilaksanakan melalui kegiatan rutin atau pembiasaan yang meliputi aspek agama, gemar membaca, kerapian, dan kebersihan serta melalui kegiatan ekstrakulikuler di SD N Jlaban.

Di kelas 2 terdapat papan literasi yang ditempel di tembok belakang kelas yang berisi karya peserta didik berupa puisi dll yang setiap saat dapat dibaca oleh peserta didik itu sendiri.  Dari hal tersebut siswa telah dibiasakan untuk membaca mulai dari kelas rendah sehingga terbentuklsh generasi yang gemar membaca karena dengan membaca, siswa dapat memperluas wawasannya. Sehingga diharapkan siswa dapat memiliki pemikiran yang tebuka dalam mengatasi berbagai permasalahan hidupnya.

Budaya religius tampak saat membaca doa akan belajar di kelas. SD N Jlaban juga mempunyai program rutin yaitu sholat dzuhur berjamaah di awal waktu dan dzikir bersama serta ceramah singkat atau kultum dari Kepala Sekolah setelah sholat yang bertujuan untuk membentuk karakter siswa yang religius. Dengan pengembangan budaya yang religius, siswa diharapkan dapat selalu mengingat Tuhan saat akan menjalani setiap kegiatannya.

Budaya rapi yang dikembangkan oleh guru SD N Jlaban antara lain saat hari senin para siswa harus memakai atribut yang lengkap dan kaos kaki yang rapi. Jika tidak siswa akan mendapat sanksi setelah upacara. Sebelum pulang sekolah, siswa kelas 2 diharuskan merapikan kursi dengan menaikknya keatas meja agar terlihat rapi. Dari hal tersebut, dapat diketahui bahwa budaya rapi telah merasuk ke dalam diri peserta didik.

Siswa dijadwalkan untuk piket halaman dan taman sekolah secara bergiliran. Dengan hal tersebut diharapkan siswa akan terbiasa menempati tempat yang bersih dan pemadangan sekitar sekolah pun nampak indah. Melalui kegiatan membersihkan halaman dan taman siswa dipupuk sejak dini agar memiliki karakter peduli terhadap lingkungan.

Saran

Guru sebagai ujung tombak dalam melaksanakan kegiatan pembelajaran di kelas yang mempunyai otoritas penuh dalam pembentukan perilaku peserta didik baik melalui ucapan maupun perbuatan. Oleh karena itu, guru perlu menempatkan diri sebagai contoh teladan dan figur kedua setelah orang tua yang dapat digugu dan ditiru sebagai role model atau living example serta memberikan pembiasaan pada peserta didik.

DAFTAR PUSTAKA

Mustadi, A, dkk. (2018). Landasan Pendidikan Sekolah Dasar. Yogyakarta: UNY Press.

Megawangi, R. 2004. Pendidikan Karakter. Jakarta: Indonesia Heritage Foundation.

Moleong, L.J. 2007. Metodologi Penelitian Kualitatf. Bandung: PT. Remaja

Rosdakarya. Mustadi, Ali, 2011, Artikel Karakter Berwawasan Sosiokultural

Mu’in, Fathul. 2011. Pendidikan Karakter:Konstruksi Teoretik & Praktik. Jogjakarta: Ar-Ruzz Media.

Pane, M.M. 2016. The Significance of Environmental Contents in Character Education for Quality of Life. rocedia Social and Behavioral Sciences. 222:244-252.

Setyowati, E. 2009. Pendidikan Budi Pekerti Menjadi Mata Pelajaran di Sekolah. LembaranIlmu Pendidikan. 39(2): 148-154.

Suryanto, E., Suhita, R., Mujiyanto, Y. v2013. Model Pendidikan Budi Pekerti Berbasis Cerita Anak untuk Penanaman Nilai Etis-Spiritual. Litera.12(2):227:238

Taufik. 2014. Pendidikan Karakter di Sekolah: Pemahaman, Metode Penerapan, dan Peranan Tiga Elemen. Jurnal Ilmu Pendidikan. 20 (1): 59-23

Wiyani, Novan Ardy. 2012. Konsep,Praktik,& Strategi Membumikan Pendidikan Karakter di SD. Jogjakarta : Ar-Ruzz Media.

Mustakim, B. 2011. Pendidikan Karakter: Membangun Delapan Karakter Emas Menuju Indonesia Bermartabat. Yogyakarta: Samudra Biru.

Mustadi, Ali. 2018. Pengembangan Perangkat Pembelajaran Tematik dalam Peningkatan Karakter, Motivasi, dan Prestasi Belajar Siswa Sekolah Dasar. Yogyakarta. uny.ac.id

Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional

Leave a Reply

*

− 3 = 6